Sabtu, 23 Juli 2011

GANDUM DAN ILALANG




Dalam perjalanan hidup saya hingga kini, saya merasakan betapa sulitnya untuk hidup benar di tengah dunia yang tidak benar. Apakah itu di sekolah, kampus, pekerjaan maupun lingkungan tetangga, kita akan terus menerus berhadapan dengan berbagai karakter yang siap menjauhkan kita dari kehendak Tuhan. Atau jika tidak separah itu, kita tetap bertemu dengan orang-orang yang menggiring kita untuk berbuat dosa. Jika atasan kita menerima suap misalnya, kita pun diminta untuk ikut arus, setidaknya tidak sok jujur dan melaporkannya, atau kita harus siap-siap kehilangan pekerjaan. Ketika teman-teman kita berbuat dosa, kita akan dibilang sok suci dan dikucilkan apabila kita tidak mengikuti mereka. 
Ini baru dua contoh dari ribuan kasus yang kita hadapi sehari-hari. 

Ada sebuah perumpamaan menarik tentang gandum yang tumbuh berbarengan dengan ilalang. Kedua tanaman ini tumbuh di tempat yang sama dan kelihatannya cukup sulit untuk dipilah. Ini perumpamaan yang berbicara tentang orang benar dan orang jahat yang dibiarkan hidup berdampingan. Gandum dan ilalang adalah 2 tanaman yang mirip tapi jelas mempunyai karakteristik berbeda, tapi tumbuh bersamaan.
Gandum, makanan pokok yang berguna bagi manusia, sedang ilalang tidak berguna. Ilalang lebih banyak menyerap sari makanan dari tanah, sehingga mengganggu pertumbuhan gandum. Sayangnya ilalang dan gandum baru dapat dibedakan ketika bulir-nya keluar. Dan, ilalang yang dicabut sebelum waktunya bisa membuat gandum turut tercabut.

Satu-satunya cara memisahkan Ilalang dan Gandum, dengan menunggu sampai saat menuai tiba. Seumpama ilalang dan gandum, begitulah orang jahat tetap dibiarkan hidup di dunia ini bersama orang baik, meski mereka membawa penderitaan bagi orang-orang baik.
Alam memperlakukan sama pada seluruh ciptaan-Nya, baik yang berbuat jahat atau yang berbuat baik. Dia masih memberi kesempatan kepada yang jahat supaya bertobat dan bisa memperoleh Kesadaran, juga memberi kesempatan kepada yang baik untuk terus bertumbuh dan Berguna .

Justru dengan adanya “Ilalang”, maka “Gandum” ditantang untuk bisa tumbuh makin kuat, makin tahan uji, dan makin berkualitas. Kita telah diajar untuk panjang sabar mengikuti filosofi Gandum dan Ilalang ini karena segala sesuatu ada waktunya;
Kita harus memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berubah dan bertumbuh lebih baik, bukannya cepat-cepat menghakimi dan menghukum nya. Kita harus memiliki kasih yang besar bagaikan kita merawat “gandum” di ladang, hendaknya kita terus tumbuh seiring waktu dalam kasih dan kebenaran yang sejati.

Yang penting adalah menjaga status kita tetap sebagai "gandum" meskipun ada ribuan ilalang disekeliling kita.  Tentu perbuatan kita itu akan mendapat reaksi dari kelompok ilalang. Sulit? jelas sulit. Namun semua kesulitan itu memang harus kita lalui, dan pada akhirnya nanti kita akan selamat ketika kita dimintai pertanggung jawaban.

Sebagai warga "gandum", ingatlah bahwa anda memiliki karakteristik sebagai gandum, bukan ilalang! Gandum akan dikumpulkan ke dalam lumbung,  akan halnya ilalang akan diikat untuk dibakar. Sungguh mengerikan bukan? Kalau kita melakukan perbuatan-perbuatan seperti halnya ilalang. Satu saat nanti pasti akan terjadi pemisahan antara gandum dan ilalang. Gandum akan masuk ke dalam lumbung, sedangkan ilalang akan dibakar habis. Sebelum hal itu sampai, pastikan benar-benar bahwa anda adalah gandum!

Anda adalah gandum, bukan ilalang. Jangan sampai berakhir pada kelompok yang salah.

Sudahkan kalian telah melakukannya ? sedemikian rupa sehingga tumbuh tangguh dan bermanfaat bagi keluarga dan lingkungannya ?

MESKI ILALANG HARUS TUMBUH DI ANTARA GANDUM TAPI GANDUM HARUS TERUS TUMBUH KUAT DAN MERANU

Kamis, 21 April 2011

Semua hal dalam Hidup adalah Sementara.
Jika berlangsung Baik, Nikmatilah..
karena tidak akan bertahan selamanya.
Jika berlangsung Salah, Jangan Khawatir..
karena juga tidak akan bertahan lama.

Minggu, 20 Maret 2011

Pandanglah hari ini, kemarin sudah jadi mimpi. Dan esok hanyalah sebuah visi. Tetapi, hari ini yang sungguh nyata, menjadikan kemarin sebagai mimpi kebahagiaan, dan setiap hari esok adalah visi harapan (Alexander Pope)

Minggu, 20 Februari 2011

Sharing dari milist tetangga.

Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dari bangsa Barat?

 Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi  ternyata menjadi "best seller".  (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal ttg bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran  banyak orang:

1. Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi org Asia, banyaknya  kekayaan yg dimiliki lbh dihargai drpd CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang  bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku  koruptif pun ditolerir/ diterima sbg sesuatu yg wajar.

3. Bagi org Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada  pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus2 Imu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan utk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dlm  Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada org Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya  yg berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibat-  nya sifat eksploratif sbg upaya  memenuhi rasa  penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7. Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi stlh sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber utk minta penjelasan tambahan.

Dlm bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan bbrp solusi sbb:

1. Hargai proses. Hargailah org krn pengabdiannya bukan karena kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren tapi duitnya dari hasil korupsi

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya

3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar2 dikuasainya

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yg lebih cepat menghasilkan uang

5. Dasar kreativitas adlh rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

6. Guru adlh fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dgn bangga kl KT TDK TAU!

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah2an dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga  memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi

Bila anda juga tertarik utk mengetahui lebih banyak silahkan search di Google atau pesan buku nya keAmazon.com

Selasa, 15 Februari 2011

Kita tidak dapat mengubah masa lalu,
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang,
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi,
Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang dapat kita kontrol, dan itu adalah sikap kita.
...Selamat pagi

Senin, 14 Februari 2011

Semilir angin pagi membuat aku terbangun,
suara burung yang berkicau seakan memberiku isyarat,
cahaya matahari seakan menyuruhku tuk mengucapkan
"Selamat Pagi Semua”

Minggu, 30 Januari 2011

SEBELUM

Hari ini sebelum kita mengatakan kata-kata yang tidak baik, Fikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali.
Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan, Fikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, Fikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.
Sebelum kita mengeluh bahawa kita buruk, Fikirkan tentang seseorang yang berada pada keadaan yang terburuk di dalam hidupnya.
Sebelum mengeluh tentang suami atau isteri anda, Fikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.
Hari ini sebelum kita mengeluh tentang hidup, Fikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
Sebelum kita mengeluh tentang anak-anak kita, Fikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
Sebelum kita mengeluh tentang rumah yang kotor kerana pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Fikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
Dan di saat kita letih dan mengeluh tentang pekerjaan, Fikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti kita.
Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, Ingatlah bahawa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
Dan ketika kita sedang bersedih dan hidup dalam kesusahan, Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahawa kita masih hidup !
: